WEB SITE RESMI GKPI BUKIT SION YANG BARU

Puji Tuhan, Gereja GKPI Bukit Sion sekarang telah memiliki Web Site resmi yaitu : http://www.gkpibukitsionbatam.com. Jadi untuk berita berita terbaru (terupdate) silahkan check di halaman tersebut, Tuhan Memberkati.

GKPI BUKIT SION, BIDA AYU - M.KUNING, BATAM

Blog ini kami tujukan khususnya untuk seluruh jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) BUKIT SION Bida Ayu - Muka Kuning, Batam dan umumnya untuk seluruh saudara-saudari kami yang beragama Kristiani yang mungkin belum sempat beribadah pada Hari Minggu yang mungkin dikarenakan oleh aktifitas yang padat, sehingga melewatkan bahan renungan pada Minggu yang berjalan. Oleh karena itu, bapak dan ibu serta pemuda pemudi kami bisa membaca Summary atau ringkasan dari renungan Mingguan kita disini. Berita jemaat juga bisa dilihat di blog ini, seperti jadwal Evanggelisasi kita serta Renungan Harian yang dikutip dari berbagai sumber. Dalam bulan ini Gereja kami GKPI BUKIT SION akan melakukan pembangunan fisik gereja, oleh karena itu, kami memohon bantuan doa dari saudara-saudari yang berkunjung ke Blog kami. Semoga Blog ini bermanfaat dan dapat menjadi saluran berkat bagi kita semua, Tuhan Yesus Memberkati.

Hormat dan salam kami
JM. Hutagaol, SPd
(Sekretaris Jemaat GKPI BUKIT SION - Batam)

Sunday, September 6, 2009

Renungan Harian Minggu, 06 September 2009

MENGHAKIMI

Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkan ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri
( Roma 14 : 4 )

Suatu pagi, di sebuah barak tentara, seorang kolonel datang untuk mengadakan sidak (inspeksi mendadak) di barak itu. Begitu tanda dibunyikan, para prajurit segera bersiap dan berdiri di samping tempat tidurnya, sementara sang kolonel berjalan berkeliling sambil mengamati mereka satu persatu. Semua tampaknya lancar dan baik. Tapi, mendadak kolonel itu berhenti di depan seorang prajurit baru. Memandangnya sebentar, kolonel itu segera memerintah, “Betulkan kancingnya, Prajurit!” hardiknya. Si prajurit dengan ragu menjawab, “Siap,. Sekarang Pak?” Sang colonel menghardik makin keras, “tentu sekarang, Prajurit!” Maka, prajurit itupun dengan agak gemetar menjulurkan tangannya dan membetulkan kancing baju sang colonel yang terbuka.

Menghakimi adalah kecenderungan yang dimiliki setiap orang. Alkitab mencatat banyak nasihat tentang menghakimi. Anekdot di atas kiranya adalah gambaran tentang mengapa orang harus berhati-hati dalam hal ini. Masalah pertama, yaitu yang paling sering terjadi dalam menghakimi adalah kita buru-buru menyalahkan atau menilai keburukan seseorang tanpa lebih dulu melihat apakah diri kita tidak melakukan kesalahan yang sama. Ya, sama seperti colonel dan prajurit dalam kisah di atas.

Masalah kedua adalah kita menghakimi tanpa berpegang pada standar kebenaran Alkitab. Ya, sebagai orang Kristen, kita memang punya kewajiban untuk menegur saudara seiman yang mungkin berbuat dosa (Mat. 18:15). Tapi, kita harus tetap melakukannya dengan standar yang benar, yaitu kebenaran firman Tuhan dan kasih Kristus. Sedangkan masalah ketiga dari menghakimi adalah, kita sering terpaku pada kesalahan orang lain saja. Padahal, Alkitab mengatakan bahwa yang lebih penting lagi adalah kita harus saling membangun (Rm. 14:19). Jadi, boleh saja kita memperingatkan sesame kita. Tapi, berhati-hatilah jika Anda mulai menghakimi. Karena peringatan Alkitab sangat jelas, lebih baik jika kita jangan menghakimi, karena itu berarti kita harus siap dihakimi juga. (Arie)

Jangan menghakimi jika tidak siap dihakimi

Saturday, September 5, 2009

Renungan Harian Sabtu, 05 September 2009

Dr. Jekyll & Mr. Hyde

Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku
( Roma 7 : 20 )

Anda mungkin tahu kisah tentang Dr. Jekyll dan Mr. Hyde karangan Robert Louis Stevenson. Dalam kisah itu, diceritakan seorang professor, Dr. Henry Jekyll yang berjuang mengatasi dorongan saling bertentangan dalam hidupnya. Yang satu ingin menjadi orang terhormat di masyarakat, sedang yang lain ingin hidup dalam kekejaman dan nafsu kejahatan. Karena tidak ingin nama baiknya rusak, Dr. Jekyll menciptakan ramuan yang membuatnya bisa berubah menjadi Mr. Hyde yang kejam, kasar dan jahat. Dengan menjadi Mr. Hyde, ia bisa melakukan dan melampiaskan nafsunya untuk melakukan kekejaman dan dosa, tanpa orang lain tahu bahwa ia sebenarnya Dr. Jekyll yang tersohor itu. Tapi, masalah muncul saat lama kelamaan, Dr. Jekyll tidak bisa lagi mengontrol pribadinya yang jahat. Ia bisa tiba-tiba berubah menjadi Mr. Hyde meski tidak minum ramuan itu. Pada akhirnya, justry Mr. Hydelah yang mengontrol Dr. Jekyll, bukan sebaliknya.

Sebagian orang berpikir dia bisa memelihara dan mengendalikan dosa. Untuk mengendalikannya, sering muncul sikap pura-pura. Seperti Dr. Jekyll yang tidak mau melepaskan nama baik maupun tabiat jahatnya, kita mungkin beralasan bahwa tabiat buruk yang kita miliki tidak berbahaya bagi iman dan kehidupan kita. Tapi, Paulus dalam bacaan hari ini mengatakan itu mustahil. Bahkan pengetahuan akan yang baik justru bisa membuat kita berbuat jahat. Bukan karena pengetahuannnya yang membuat kita jahat, tapi karena makin kita tahu, makin kita tidak bisa melawan dorongan untuk melanggarnya. Apalagi jika kita sengaja tetap memeliharanya. Daging itu lemah (mrk. 14:38), dan manusia memang pada dasarnya sangat rentan terhadap dosa.

Lalu bagimana solusinya? Hyanya satu cara. Jangan pernah merasa bahwa Anda bisa mengontrol tabiat dosa Anda. Tapi, Tuhan telah mengutus roh Kudus untuk membantu kita. Inilah satu-satunya kekuatan yang bisa kita andalkan untuk melawan tabiat dosa kita. Miliki pengertian tentang nasihat dan firman-Nya, dari situlah Roh Kudus akan menolong kita menang atas kebiasaan dosa. (Arie)

Hanya pertolongan Roh Kudus yang dapat membebaskan kita dari tabiat dosa

Friday, September 4, 2009

Renungan Harian Jumat, 04 September 2009

PELAN TAPI PASTI

Dosa beberapa orang menyolok, seakan-akan mendahului mereka ke pengadilan, tetapi dosa beberapa orang lagi baru menjadi nyata kemudian
( 1 Timotius 5 : 24 )

Seorang pria sedang berjalan-jalan di pedalaman. Dia melihat seekor burung besar, mungkin sejenis elang yang terbang di udara. Saat itu, pria tersebut melihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Elang itu makin lama makin kehilangan kemampuan terbangnya, dan segera menukik dan terjatuh di dekat pria itu, mati. Apa yang terjadi? Tidak ada manusia yang melukainya. Tidak ada orang yang menembaknya. Dia memeriksa burung itu, dan apa yang ditemukannya? Burung itu telah membawa dalam cakarnya seekor musang kecil yang tampak merapatkan diri ke tubuhnya ketika terbang. Binatang kecil itu segera mengambil kesempatan dan berhasil membuka dada burung Elang dan meminum darahnya.

Itulah gambaran kebiasaan dosa yang melekat pada seseorang, yang akhirnya secara tidak sadar dan tidak menyakitkan, menyebabkan kematian rohaninya. Dalam hidup ini, bukankah tanpa sadar kita pun sering berlaku seperti elang dalam kisat di atas? Kita melakukan sesuatu yang dapat menjerumuskan dan mematikan hidup kita. Bagi perokok berat, bukankah perbuatan Anda cepat atau lambat akan mematikan diri sendiri? Bagi yang suka menonton TV sampai berjam-jam, bukankah tindakan tersebut lambat laun akan menjerumuskan anda pada kemalasan? Bagi kita yang masih suka bertanya kepada paranormal, bukankah apa yang kita lakukan itu, pelan tapi pasti akan menghancurkan diri sendiri, menjauhkan hubungan kita dengan Yesus, bahkan mendatangkan murka Allah? Bagi yang senang menyimpan “sampah” hati, yaitu iri, kemarahan, sakit hati, dan sebaginya, bukankah hal itu lama-kelamaan akan menyakiti dan menguras energi diri sendiri?

Hari ini, marilah kita belajar untuk mendekatkan diri pada Kristus. Karena semakin kita dekat pada-Nya, maka semakin pekalah kita. Dan hal itu akan membuat kita lebih mudah untuk mendeteksi karakter dan kebiasaan buruk yang kita miliki. Sadarlah sebelum kita kehabisan “darah” dan mati sia-sia (Imelda)

Aturan pertama tentang lubang; saat anda berada di dalamnya, berhentilah menggali

Thursday, September 3, 2009

Renungan Harian Kamis, 03 September 2009

MATA

Mata adalah pelita tubuh, Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu
Matius 6 : 22


Hati hati dengan mata kita. Seperti kata Yesus, jika mata kita baik maka teranglah seluruh hidup kita. Sebaliknya jika mata kita jahat gelaplah seluruh hidup kita. Ada yang istimewa dengan mata, sehingga Yesus memberikan peringatan penting untuk indera kita yang satu ini. Kalau boleh saya umpamakan, mata adalah pintu gerbang masuknya hal-hal yang baik maupun positif. Itu sebabnya kita perlu memasang filter untuk mata kita.

Harus diakui sebagian besar keputusan yang kita ambil dikarenakan oleh mata kita. Bagaimana kita memiliki seseorang untuk kita jadikan pasangan hidup kita? Bukankah kerapkali karena apa yang kita lihat dengan mata kita? Tindakan yang kita ambil juga dikarenakan oleh mata kita. Mengapa Lot memilih Sodom dan Gomora ketika ia harus berbagi dengan Abraham? Bukankah karena Lot melihat bahwa daerah tersebut banyak airnya dan seperti taman Tuhan? (Kej. 13:10). Sebagian besar dosa yang kita lakukan juga dikarenakan oleh mata kita. Hawa jatuh dalam dosa karena melihat buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat tersebut baik untuk dimakan, menarik dan sedap kelihatannya (Kej 3:6). Daud jatuh dalam skandal yang memalukan dengan Batsyeba karena dia tidak memiliki “filter” di matanya. Kerapkali yang menjadi musuh utama bagi iman adalah mata kita. Kita ingin melihat buktinya dulu baru kemudian bisa percaya.

Maka jita matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jka satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan dalam neraka (Mat. 5:29). Secara sepintas, ungkapan Yesus tersebut terdengan sangat kasar, dan kejam. Namun sesungguhnya Yesus sedang mengajarkan kepada kita untuk bertanggung jawab dengan mata kita, karena dari situlah hal yang baik maupun yang jahat masuk dalam hidup kita. Dosa kerap menguasai hidup kita melalui mata kita, itu sebabnya kita perlu hati-hati dan bertanggung jawab untuk memasang “filter” terhadap mata kita. (Kwik)

Mata adalah pintu gerbang bagi masuknya hal-hal yang baik maupun yang jahat

Wednesday, September 2, 2009

Renungan Harian Rabu, 02 September 2009

ULAT KECIL

Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keesrakahan, yang sama dengan penyembahan berhala (Kolose 3:5)

Di satu desa, terdapat sebuah pohon raksasa yang usianya mungkin sekitar ratusan tahun. Para penduduk maupun orang-orang yang melihat pohon itu selalu kagum dengan kekuatan dan kekokohan pohon itu. Satu waktu, badai dahsyat datang melanda daerah itu. Begitu dahsyatnya sampai banyak pohon tumbang dan tercerabut dari akarnya. Akan tetapi, pohon itu tetap tegar berdiri. Orang-orangpun makin kagum dengan kokohnya si pohon raksasa.

Tapi, beberapa tahun kemudian, di suatu siang dengan hujan yang tidak terlalu deras, satu kilat menyambar pohon itu. Pohon itu pun langsung tumbang. Warga yang melihatnya heran. Bagaimana bisa pohon yang ratusan tahun kuat menahan badai kini begitu mudahnya tumbang hanya karena tersambar kilat yang biasa saja? Ternyata, setelah mereka melihat di dalam batang pohon itu, didapati di dalamnya ada ulat-ulat yang membuat kayu pohon itu keropos dan kosong. Tentu saja, butuh waktu yang lama untuk ulat-ulat itu menggerogoti batang kayu pohon besar itu. Tapi, karena terus dibiarkan pada akhirnya sekuat apapun pohon itu tetap saja menjadi keropos dan jatuh.

Banyak orang hebat bisa jatuh karena satu dosa yang mungkin “kecil” tapi terus dibiarkan hingga membuat gagal. Apakah itu kepahitan, hawa nafsu terpendam, atau kebiasaan-kebiasaan yang sepertinya remeh tapi dapat berkembang menjadi dosa. Saat kita meremehkan dosa-dosa “kecil”, atau terlalu percaya bahwa hal-hal positif yang ada dalam diri kita akan mampu mengatasinya, maka kita sedang membiarkan ulat-ulat kecil berkembang biak dan terus menggerogoti diri kita. Hukum dunia mungkin membedakan antara pelanggaran ringan dan pelanggaran berat. Tapi, hukum tabur tuai tidaklah demikian. Buktinya, sebutir benih kecil pun dapat menjadi pohon raksasa. Pelanggaran sekecil apapun selalu memiliki konsekuensi yang jika dibiarkan, atau bahkan dipelihara, bisa menjadi konsekuensi besar. Karena itu, jangan pernah remehkan ulat kecil dalam hidup Anda. Tapi, serahkanlah dan bereskan permasalahan Anda di hadapan Tuhan segera. (By: Arie)

Sebutir benih dosa jika dipelihara akan menjadi pohon raksasa

Tuesday, September 1, 2009

Renungan Harian Selasa, 01 September 2009

STRATEGI IBLIS


Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain … ( 1 Raja-raja 11-4)

Pelajarilah strategi musuh untuk menjatuhkan iman kita. Salah satu cara iblis untuk menyeret kita kembali ke dalam dosa adalah dengan menariknya perlahan-lahan sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah meninggalkan Tuhan. Iblis tidak menyerang kita secara frontal, melainkan menggerus iman kita perlahan-lahan. Dari zona putih ke zona abu-abu baru masuk ke zona hitam. Dari panas ke suam-suam, lalu hati kita menjadi dingin dan tawar.

Cara kerja iblis yang satu ini begitu lembut, rapi, dan tidak kentara. Yang paling bahaya dari strategi iblis ini adalah karena kita kerap kali tidak sadar sudah bergeser dari jalan Tuhan. Anda pernah mengamati sinar matahari? Sepertinya matahari tidak bergerak, namun kenyataannya sinar matahari telah bergeser dari ufuk timur sampai ujung barat. Hal yang sama menimpa raja Salomo. Dari raja yang mengasihi Allah hingga akhirnya menjadi raja yang terpikat ilah asing sesembahan isteri-isterinya. Keruntuhan iman Salomo tidak terjadi tiba-tiba melainkan perlahan-lahan, hingga tanpa sadar imannya sudah bergeser kepada berhala-berhala kafir. Iblis menyodorkan dosa dengan dosis kecil dahulu, lama kelamaan dosisnya makin besar, hingga akhirnya raja Salomo terbelenggu.

Bagaimana supaya iman kita tidak bergeser? Jangan pernah mau kompromi dengan dosa sekecil apapun. Sekali kita mengizinkan dosa kecil masuk dalam hidup kita, kita akan ditagih untuk melakukan dosa yang lebih besar lagi hingga akhirnya kita terbelenggu olehnya. Ingatlah pepatah kuno yang berkata jika kita bermain dengan api kecil, kita bisa membakar hutan. Jangan pernah terjebak dengan zona abu-abu. Jangan pernah biarkan diri kita berada dalam kesuaman, tidak panas dan tidak dingin. Karena hal-hal itulah yang biasanya membuat kita terseret kembali ke dalam dosa. Ingatlah pelajaran katak ini; untuk merebus katak jangan langsung dengan air panas, karena katak tersebut pasti meloncat karena kepanasan. Panaskan air perlahan-lahan. Dari hangat-hangat kuku hingga akhirnya mendidih, dijamin katak tersebut tidak menyadari bahwa dia sedang dibantai perlahan-lahan. (By: Kwik)

Dosa menyeret kita dengan perlahan-lahan hingga kita tidak menyadari bahwa iman kita telah bergeser.