Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan
kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan
ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.
Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu
saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran
McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering.
Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar
dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih
kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki
tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama
sekali. Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya.
Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih
sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima
‘kehadirannya’ ditempat itu. Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah
“penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.
Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku
beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat
duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang
mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat
itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti
juga melihat semua ‘tindakan’ saya.
Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga
kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta
diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.
Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang
telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”
Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah
ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.”
Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata
“Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga
berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk
menyampaikan makanan ini kepada kalian.” Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.
Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan
mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat
duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya
sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan
dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku
dan anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat
itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’
lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu
bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.
Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan
restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri
meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat
saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu
contohkan tadi kepada kami.”
Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat
HANGAT dan INDAH sekali!
Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini
ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan
harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas,
ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan
harunya.
Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya . “Tersenyumlah dengan
‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan
oleh senyummu itu.”
Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh
orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap
siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi.
Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan
di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”
Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh
para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai
cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI
SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan
bukannya
MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!
Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan
cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan
menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak
hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang
membutuhkan uluran tangannya!
Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu,
tetapi hanya ’sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK di dalam
hatimu.
Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi
dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan
kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi
orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin
akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak
melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus
BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.
Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang ‘cantik’ adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri
Sumber : Dari Milist Jerman, Seorang warga Indonesia yang bermukim atau pernah bermukim di sana
WEB SITE RESMI GKPI BUKIT SION YANG BARU
Puji Tuhan, Gereja GKPI Bukit Sion sekarang telah memiliki Web Site resmi yaitu : http://www.gkpibukitsionbatam.com. Jadi untuk berita berita terbaru (terupdate) silahkan check di halaman tersebut, Tuhan Memberkati.
GKPI BUKIT SION, BIDA AYU - M.KUNING, BATAM
Blog ini kami tujukan khususnya untuk seluruh jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) BUKIT SION Bida Ayu - Muka Kuning, Batam dan umumnya untuk seluruh saudara-saudari kami yang beragama Kristiani yang mungkin belum sempat beribadah pada Hari Minggu yang mungkin dikarenakan oleh aktifitas yang padat, sehingga melewatkan bahan renungan pada Minggu yang berjalan. Oleh karena itu, bapak dan ibu serta pemuda pemudi kami bisa membaca Summary atau ringkasan dari renungan Mingguan kita disini. Berita jemaat juga bisa dilihat di blog ini, seperti jadwal Evanggelisasi kita serta Renungan Harian yang dikutip dari berbagai sumber. Dalam bulan ini Gereja kami GKPI BUKIT SION akan melakukan pembangunan fisik gereja, oleh karena itu, kami memohon bantuan doa dari saudara-saudari yang berkunjung ke Blog kami. Semoga Blog ini bermanfaat dan dapat menjadi saluran berkat bagi kita semua, Tuhan Yesus Memberkati.
Hormat dan salam kami
JM. Hutagaol, SPd
(Sekretaris Jemaat GKPI BUKIT SION - Batam)
Hormat dan salam kami
JM. Hutagaol, SPd
(Sekretaris Jemaat GKPI BUKIT SION - Batam)
Wednesday, November 19, 2008
Tuesday, November 18, 2008
Rencana Tuhan Indah Pada Waktunya
Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa Suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawa nya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.
Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat , ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.
Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja.. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanya an rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.
Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.
Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.
Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, ‘Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.’
Di sana , ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit.. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis.
Lalu Tuhan berkata, ‘Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju.’ Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.
Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.
Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu. (Diambil dari Inspirational Christian Stories oleh Vincent Magro-Attard)
Untuk dapat melihat kehendak Tuhan digenapkan di dalam hidup anda, anda harus mengikuti Tuhan dan bukan mengharapkan Tuhan yang mengikuti anda.
(Dave Meyer, Life In The Word, Juni 1997)
‘Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…. ‘ (Pengkotbah 3:11)
Apa yang kau alami kini, mungkin tak dapat engkau mengerti, Satu hal tanamkan di hati, indah semua yang Tuhan beri. Tuhan-mu, tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti, Cobaan yang engkau alami takkan melebihi kekuatanmu.
Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat , ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.
Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja.. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanya an rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.
Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.
Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.
Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, ‘Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.’
Di sana , ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit.. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis.
Lalu Tuhan berkata, ‘Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju.’ Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.
Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.
Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu. (Diambil dari Inspirational Christian Stories oleh Vincent Magro-Attard)
Untuk dapat melihat kehendak Tuhan digenapkan di dalam hidup anda, anda harus mengikuti Tuhan dan bukan mengharapkan Tuhan yang mengikuti anda.
(Dave Meyer, Life In The Word, Juni 1997)
‘Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…. ‘ (Pengkotbah 3:11)
Apa yang kau alami kini, mungkin tak dapat engkau mengerti, Satu hal tanamkan di hati, indah semua yang Tuhan beri. Tuhan-mu, tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti, Cobaan yang engkau alami takkan melebihi kekuatanmu.
Monday, November 17, 2008
Cinta Seorang Ayah
Adalah seorang muda yang taat berdoa yang masih berpacaran dengan seorang gadis muda juga yang baik hati. Kedua orang ini adalah dua konglomerat kaya. Sebelumnya mereka pun selalu berdoa, ‘Tuhan berikanlah aku pasangan yang menurut Engkau terbaik…’ Setelah mereka menikah, keadaan berubah. Maksudnya, doanya berubah menjadi, ‘Tuhan, berikanlah kami anak yang terbaik buat kami.’ Tetapi setelah 7 tahun mereka menikah, mereka tidak mempunyai anak.
Setelah mereka berdoa dan berdoa, akhirnya mereka mempunyai anak. Dan keadaan, maksudnya doa mereka berubah lagi, ‘Tuhan, biarlah anak ini menjadi anak yang terbaik bagi kami.’ Dan benar, setelah 9 bulan istrinya mengandung,lalu lahirlah seorang anak bagi mereka. ‘Anak laki-laki pak,’ kata dokternya. Sang ayah langsung melonjak kegirangan.
Tetapi setelah 3 hari, sang dokter memanggil si ayah ke rumah sakit. Lalu si dokter berkata, Pak, dengan berat hati saya harus menyampaikan kabar buruk kepada anda.’ Si ayah membalas, ‘Kabar apapun, saya siap menerimanya, pak dokter. Saya siap menghadapi yang terburuk’ ‘Dan hal yang buruk itu adalah, bahwa putra anda tidak akan bertumbuh dengan normal seperti anak-anak yang lain,’ jelas si dokter. ‘Apa maksud bapak,’ si ayah bertanya. Dokter melanjutkan, ‘Putra anda menderita sesuatu kecacatan yang tidak dapat disembuhkan. Yaitu cacat mental yang serius..’ Sang ayah lalu menitikan air mata dan berkata sambil berdoa, ‘Tuhan, apapun yang Engkau berikan kepadaku, aku tahu semuanya baik dan Engkau tidak pernah mencelakakan anak-anakMu. ‘
Sejak itu, kedua orang tua itu membeli ranjang bayi khusus anak mereka dan ditaruh di samping ranjang mereka berdua. Mereka selalu kesulitan untuk mengurus anak mereka tersebut,tetapi mereka menanggung semuanya itu. Beranjak keluar dari umur batita, mereka membuatkan kamar khusus untuk anak mereka tersebut. Anak itu menjadi anak yang sangat istimewa dan menjadi anak mereka satu-satunya. Mereka memberikannya segala yang dia mau dan dia perlukan. Mainan macam-macam, komputer, boneka, dan lain-lain. Dan jika si ayah selesai pulang kerja, ia selalu mengajak si anak bermain. Dengan mainan yang ada atau jika ayahnya membawa mainan yang baru untuk anaknya.
Setiap ayahnya pergi keluar misalkan untuk berpesta dengan rekan kerjanya atau teman-temannya yang sedang berbahagia, ia selalu membawa serta istri dan anaknya. Dan di depan rekan-rekan kerjanya atau teman-temannya, ia selalu membanggakan anaknya. ‘Woi anak gw nih…ganteng kan ?’ Selalu ia mengatakan demikian, karena ia tahu, anaknya ini adalah anugerah Allah yang terbesar dalam dirinya.. Dan ia sangat mengasihi anak ini, karena ini anaknya. Meskipun dia cacat.
Tetapi setelah anak itu bertumbuh makin dewasa, kecacatannya semakin kelihatan. Kemampuan komunikasinya kurang, jika terjemur matahari sebentar mulutnya akan keluar busa, dan jika sedang berbicara kadang air liurnya menetes. Tetapi meskipun begitu, kedua orang tua tetap sangat sangat menyayangi anak mereka yang cacat itu.
Suatu hari, pagi-pagi sekali anak cacat ini sudah bangun, sekitar pukul 4.30. Dalam pikirannya, ‘Hari ini, aku pengen buat sarapan yang speeeeeesial buat papa.’ Setelah doa pagi, ia pergi menuju dapur. Ia mengambil potong roti, lalu menaruhnya dalam oven, dan menyetel waktunya sampai 10 menit. Tentu saja hasilnya gosong. Setelah bunyi ‘ting’, maka anak cacat itu menaruhnya di atas sebuah piring. Lalu ia mengoleskan selai kacang keju yang (amat) sangat banyak, sambil berpikir, ‘Harus kasih yang baaaaanyak buat papa, biar ueeeeenak rasanya’.
Setelah itu, ia berlari ke kulkas, lalu mengambil sebutir telur. Dan lalu memanaskan panci di atas kompor, lalu memecahkan telur tersebut dan menuangkan isinya ke dalam panci tersebut, dan langsung menaruhnya di atas piring yang lain, sambil berpikir, ‘Kalo aku buatnya cepet, pasti papa seneng, karena gak perlu nunggu lama.’ Dan lalu ia bergegas mengambil cangkir, dan mengambil toples kopi bubuk. Jika kita hanya membutuhkan 2 sendok teh, anak cacat ini memakai 5 sendok teh kopi bubuk, sambil berpikir, ‘Kalau 2 sendok the saja sudah harum, apalagi 5, pasti papa suka.’ Jadilah kopi yang terasa seperti kopi tua itu. Lalu si anak cacat ini mengambil nampan, lalu dengan hati-hati tanpa menimbulkan bunyi macam-macam, menaruh semua piring yang di atasnya ada roti gosong dan telur mentah dan cangkir kopi tua tersebut, dan menuju kamar ayahnya. Lalu ia membangunkan ayahnya, dan lalu berkata begini, ‘Papa, bangun dong, aku udah buat sarapan yang spesiaaaaaaaal buat papa.’ Lalu ayahnya bangun dan melihat dan menghirup aroma ’sedap’ dari roti gosong, telur mentah dan kopi tua tersebut. ‘Wah pasti enak nih.’
Sebelum si ayah melipat tangannya untuk berdoa, si anak berkata, ‘Pa, kali ini aku doain makanan ini buat papa ya, ‘ kan biasanya papa yang doain. OK ya papa?’ Sebelum ayahnya sempat mengangguk, si anak cacat ini sudah melanjutkan, ‘Papa ikutin ya: Tuhan Yesus, terima kasih, atas makanan ini, yang telah Tuhan sediakan. Terima kasih Tuhan, amin.’
Lalu ayahnya mecoba roti gosong tersebut, dan setelah ayahnya mengunyah gigitan pertama, si anak cacat dengan polosnya bertanya, ‘Enak kan pa?’
‘Iya, enaaaak sekali,’ lalu melanjutkan makan. Setelah roti tersebut habis, ia memakan telur mentah tersebut. Dan si anak bertanya, ‘Telurnya enak kan pa? Aku yang masak semuanya loooo….’ Si ayah berkata, ‘Wah kamu yang masak? Enak sekali nak.’ Lalu si ayah melanjutkan memakan telur mentah tersebut. Setelah semua makanan habis, ia mecoba kopi tua itu. Si anak bertanya lagi, ‘Harum dan enak kan pa?’ Si ayah tanpa expresi mual apapun, membalasnya, ‘Pahit, tapi papa suka sekali.’ Dan dengan lugunya si anak menjawab, ‘Ya iya dong papa, kopi kan pahit…,’ karena ia mengira ayahnya sedang bercanda..
Setelah semuanya habis, si ayah membelai kepala anaknya dan berkata ‘Ray, kamu tau nggak…’
‘Nggak paa,’ potong si anak cacat tersebut. Lalu si ayah melanjutkan, ‘Kalau semua masakan kamu, enaaaaak sekali.’ Lalu si anak menjawab, ‘Iya dong pa, kan aku yang masakin, spesiaaaaaal buat papa.’ Lalu si ayah berkata lagi, ‘Kamu tahu nggak kenapa papa senang hari ini?’ Si anak sambil menggelengkan kepala, ‘Nggak tau pa….’ ‘Karena hari ini kamu dah buat sarapan yang, spesiaaaaal buat papa.’ Lalu si ayah melanjutkan, ‘Ray, kamu tahu gak kenapa papa sayaaaaaaang sekali sama kamu?’ Lalu dengan lugunya anak cacat ini menjawab, ‘Nggak tahu pa…..’ ‘Karena kamu anak papa yang udah bikin papa, seneeeeeeeeeeeng banget.’ ‘Raymond juga, sayaaaaaaaaaang banget sama papa.’ Lalu sambil menitikan air mata, ia memeluk anaknya yang cacat itu, dan berkata kepada anaknya, ‘Terima kasih ya nak, karena telah memasakan sarapan roti, telur, dan kopi ini buat papa. Semuanya terasa, enaaaaak sekali.’ Lalu si anak menjawab, ‘Sama-sama papaah….’ Dan si ayah lalu berdoa dalam hatinya, ‘Tuhan terima kasih, karena Engkau sudah memberikan anak yang sangat sayang padaku…’
Anda tahu, siapakah anak cacat dan ayah tersebut?
Kamulah, yang sedang membaca adalah anak yang cacat tersebut.. Seperti anak cacat itu memberikan kepada ayahnya, roti gosong, telur mentah dan kopi tua, juga kita, memberikan apa yang tidak sempurna dari kita untuk Tuhan. Roti gosong, telur mentah dan kopi tua, yang merupakan apa
yang tidak sempurna dari kita misalnya, pujian, dan kehidupan kita, Tuhan terima semuanya dengan senang hati, karena Tuhan tahu, bahwa kita melakukannya dengan segenap hati kita yang tertuju pada Bapa di sorga, dan kita ingin melakukan yang terbaik untuk Bapa kita di sorga.
Ingat ini: Bapamu di sorga menyayangimu, apa adamu, apa yang ada padamu, apapun yang engkau berikan dengan segenap hatimu, merupakan sebuah persembahan yang harum. Karena Bapamu mengasihi kamu, sampai-sampai Ia sendiri mengirimkan Anak-Nya untuk turun ke dunia, untuk menebuskan dan mematahkan segala kutuk atas diri kita, dan untuk membayar lunas segala hutang dosa kita dan menebus dosa kita dari maut..
Ingat : Bapamu di sorga mengasihimu. You are all fair, my love, and there is no spot in you. Song of Solomon 4:7 (NKJV)
Diambil dari sebuah kisah nyata di Amerika Serikat, dan sebuah kisah nyata dalam kehidupan kita.
Sumber : Pdt. Franklyn
Setelah mereka berdoa dan berdoa, akhirnya mereka mempunyai anak. Dan keadaan, maksudnya doa mereka berubah lagi, ‘Tuhan, biarlah anak ini menjadi anak yang terbaik bagi kami.’ Dan benar, setelah 9 bulan istrinya mengandung,lalu lahirlah seorang anak bagi mereka. ‘Anak laki-laki pak,’ kata dokternya. Sang ayah langsung melonjak kegirangan.
Tetapi setelah 3 hari, sang dokter memanggil si ayah ke rumah sakit. Lalu si dokter berkata, Pak, dengan berat hati saya harus menyampaikan kabar buruk kepada anda.’ Si ayah membalas, ‘Kabar apapun, saya siap menerimanya, pak dokter. Saya siap menghadapi yang terburuk’ ‘Dan hal yang buruk itu adalah, bahwa putra anda tidak akan bertumbuh dengan normal seperti anak-anak yang lain,’ jelas si dokter. ‘Apa maksud bapak,’ si ayah bertanya. Dokter melanjutkan, ‘Putra anda menderita sesuatu kecacatan yang tidak dapat disembuhkan. Yaitu cacat mental yang serius..’ Sang ayah lalu menitikan air mata dan berkata sambil berdoa, ‘Tuhan, apapun yang Engkau berikan kepadaku, aku tahu semuanya baik dan Engkau tidak pernah mencelakakan anak-anakMu. ‘
Sejak itu, kedua orang tua itu membeli ranjang bayi khusus anak mereka dan ditaruh di samping ranjang mereka berdua. Mereka selalu kesulitan untuk mengurus anak mereka tersebut,tetapi mereka menanggung semuanya itu. Beranjak keluar dari umur batita, mereka membuatkan kamar khusus untuk anak mereka tersebut. Anak itu menjadi anak yang sangat istimewa dan menjadi anak mereka satu-satunya. Mereka memberikannya segala yang dia mau dan dia perlukan. Mainan macam-macam, komputer, boneka, dan lain-lain. Dan jika si ayah selesai pulang kerja, ia selalu mengajak si anak bermain. Dengan mainan yang ada atau jika ayahnya membawa mainan yang baru untuk anaknya.
Setiap ayahnya pergi keluar misalkan untuk berpesta dengan rekan kerjanya atau teman-temannya yang sedang berbahagia, ia selalu membawa serta istri dan anaknya. Dan di depan rekan-rekan kerjanya atau teman-temannya, ia selalu membanggakan anaknya. ‘Woi anak gw nih…ganteng kan ?’ Selalu ia mengatakan demikian, karena ia tahu, anaknya ini adalah anugerah Allah yang terbesar dalam dirinya.. Dan ia sangat mengasihi anak ini, karena ini anaknya. Meskipun dia cacat.
Tetapi setelah anak itu bertumbuh makin dewasa, kecacatannya semakin kelihatan. Kemampuan komunikasinya kurang, jika terjemur matahari sebentar mulutnya akan keluar busa, dan jika sedang berbicara kadang air liurnya menetes. Tetapi meskipun begitu, kedua orang tua tetap sangat sangat menyayangi anak mereka yang cacat itu.
Suatu hari, pagi-pagi sekali anak cacat ini sudah bangun, sekitar pukul 4.30. Dalam pikirannya, ‘Hari ini, aku pengen buat sarapan yang speeeeeesial buat papa.’ Setelah doa pagi, ia pergi menuju dapur. Ia mengambil potong roti, lalu menaruhnya dalam oven, dan menyetel waktunya sampai 10 menit. Tentu saja hasilnya gosong. Setelah bunyi ‘ting’, maka anak cacat itu menaruhnya di atas sebuah piring. Lalu ia mengoleskan selai kacang keju yang (amat) sangat banyak, sambil berpikir, ‘Harus kasih yang baaaaanyak buat papa, biar ueeeeenak rasanya’.
Setelah itu, ia berlari ke kulkas, lalu mengambil sebutir telur. Dan lalu memanaskan panci di atas kompor, lalu memecahkan telur tersebut dan menuangkan isinya ke dalam panci tersebut, dan langsung menaruhnya di atas piring yang lain, sambil berpikir, ‘Kalo aku buatnya cepet, pasti papa seneng, karena gak perlu nunggu lama.’ Dan lalu ia bergegas mengambil cangkir, dan mengambil toples kopi bubuk. Jika kita hanya membutuhkan 2 sendok teh, anak cacat ini memakai 5 sendok teh kopi bubuk, sambil berpikir, ‘Kalau 2 sendok the saja sudah harum, apalagi 5, pasti papa suka.’ Jadilah kopi yang terasa seperti kopi tua itu. Lalu si anak cacat ini mengambil nampan, lalu dengan hati-hati tanpa menimbulkan bunyi macam-macam, menaruh semua piring yang di atasnya ada roti gosong dan telur mentah dan cangkir kopi tua tersebut, dan menuju kamar ayahnya. Lalu ia membangunkan ayahnya, dan lalu berkata begini, ‘Papa, bangun dong, aku udah buat sarapan yang spesiaaaaaaaal buat papa.’ Lalu ayahnya bangun dan melihat dan menghirup aroma ’sedap’ dari roti gosong, telur mentah dan kopi tua tersebut. ‘Wah pasti enak nih.’
Sebelum si ayah melipat tangannya untuk berdoa, si anak berkata, ‘Pa, kali ini aku doain makanan ini buat papa ya, ‘ kan biasanya papa yang doain. OK ya papa?’ Sebelum ayahnya sempat mengangguk, si anak cacat ini sudah melanjutkan, ‘Papa ikutin ya: Tuhan Yesus, terima kasih, atas makanan ini, yang telah Tuhan sediakan. Terima kasih Tuhan, amin.’
Lalu ayahnya mecoba roti gosong tersebut, dan setelah ayahnya mengunyah gigitan pertama, si anak cacat dengan polosnya bertanya, ‘Enak kan pa?’
‘Iya, enaaaak sekali,’ lalu melanjutkan makan. Setelah roti tersebut habis, ia memakan telur mentah tersebut. Dan si anak bertanya, ‘Telurnya enak kan pa? Aku yang masak semuanya loooo….’ Si ayah berkata, ‘Wah kamu yang masak? Enak sekali nak.’ Lalu si ayah melanjutkan memakan telur mentah tersebut. Setelah semua makanan habis, ia mecoba kopi tua itu. Si anak bertanya lagi, ‘Harum dan enak kan pa?’ Si ayah tanpa expresi mual apapun, membalasnya, ‘Pahit, tapi papa suka sekali.’ Dan dengan lugunya si anak menjawab, ‘Ya iya dong papa, kopi kan pahit…,’ karena ia mengira ayahnya sedang bercanda..
Setelah semuanya habis, si ayah membelai kepala anaknya dan berkata ‘Ray, kamu tau nggak…’
‘Nggak paa,’ potong si anak cacat tersebut. Lalu si ayah melanjutkan, ‘Kalau semua masakan kamu, enaaaaak sekali.’ Lalu si anak menjawab, ‘Iya dong pa, kan aku yang masakin, spesiaaaaaal buat papa.’ Lalu si ayah berkata lagi, ‘Kamu tahu nggak kenapa papa senang hari ini?’ Si anak sambil menggelengkan kepala, ‘Nggak tau pa….’ ‘Karena hari ini kamu dah buat sarapan yang, spesiaaaaal buat papa.’ Lalu si ayah melanjutkan, ‘Ray, kamu tahu gak kenapa papa sayaaaaaaang sekali sama kamu?’ Lalu dengan lugunya anak cacat ini menjawab, ‘Nggak tahu pa…..’ ‘Karena kamu anak papa yang udah bikin papa, seneeeeeeeeeeeng banget.’ ‘Raymond juga, sayaaaaaaaaaang banget sama papa.’ Lalu sambil menitikan air mata, ia memeluk anaknya yang cacat itu, dan berkata kepada anaknya, ‘Terima kasih ya nak, karena telah memasakan sarapan roti, telur, dan kopi ini buat papa. Semuanya terasa, enaaaaak sekali.’ Lalu si anak menjawab, ‘Sama-sama papaah….’ Dan si ayah lalu berdoa dalam hatinya, ‘Tuhan terima kasih, karena Engkau sudah memberikan anak yang sangat sayang padaku…’
Anda tahu, siapakah anak cacat dan ayah tersebut?
Kamulah, yang sedang membaca adalah anak yang cacat tersebut.. Seperti anak cacat itu memberikan kepada ayahnya, roti gosong, telur mentah dan kopi tua, juga kita, memberikan apa yang tidak sempurna dari kita untuk Tuhan. Roti gosong, telur mentah dan kopi tua, yang merupakan apa
yang tidak sempurna dari kita misalnya, pujian, dan kehidupan kita, Tuhan terima semuanya dengan senang hati, karena Tuhan tahu, bahwa kita melakukannya dengan segenap hati kita yang tertuju pada Bapa di sorga, dan kita ingin melakukan yang terbaik untuk Bapa kita di sorga.
Ingat ini: Bapamu di sorga menyayangimu, apa adamu, apa yang ada padamu, apapun yang engkau berikan dengan segenap hatimu, merupakan sebuah persembahan yang harum. Karena Bapamu mengasihi kamu, sampai-sampai Ia sendiri mengirimkan Anak-Nya untuk turun ke dunia, untuk menebuskan dan mematahkan segala kutuk atas diri kita, dan untuk membayar lunas segala hutang dosa kita dan menebus dosa kita dari maut..
Ingat : Bapamu di sorga mengasihimu. You are all fair, my love, and there is no spot in you. Song of Solomon 4:7 (NKJV)
Diambil dari sebuah kisah nyata di Amerika Serikat, dan sebuah kisah nyata dalam kehidupan kita.
Sumber : Pdt. Franklyn
Sunday, November 16, 2008
Ibadah dan Persembahan (Khotbah Minggu, 16 November 2008)
Persembahan adalah kata yang paling dibenci oleh hukum pasar. Mengapa? Karena hukum pasar tidak mengenal hal yang gratis-gratisan. Semuanya serba berbayar. Kita memberi karena memperoleh sesuatu. No Money No Honey (Tidak ada uang, tidak ada madu)
Prinsip ini berseberangan dengan persembahan. Kita memberi persembahan (entah itu ucapan syukur, kurban khusus, perpuluhan, perduapuluhan, dll) bukan untuk memperoleh sesuatu dari Tuhan. Karena Tuhan tidak memperjual-belikan apa pun yang ada padaNya.
Lalu mengapa kita memberi persembahan? Jawabnya ada di Firman hari ini. Tuhan menyuruh Israel membawa persembahan berupa: Emas, perak, dan perunggu, kain linen halus, kain wol biru, ungu, merah, kain dari bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit halus, kayu akasia, minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak upacara dan untuk dupa yang harus serta bermacam-macam batu permata.
Tuhan meminta itu semua bukan karena ia tidak punya. Melainkan, karena Dia-lah pemilik dari semua itu. Tapi, Tuhan fair. Ia tidak memaksa. Yang ia inginkan adalah hati tergerak (Ay 2). Hati yang tergerak inilah yang kita sebut sebagai Ibadah. Memberi sebagai tanda tunduk dan taat pada Tuhan. Memberi karena telah lebih dahulu diberi. Bersyukur karena telah lebih dahulu diberkati. Bukan karena berharapakan sesuatudari padaNya.
GKPI sendiri menuangkan keyakinan ini dalam doa persembahan setiapminggu. Tepatnya pada formulasi: "Siapakah kami sehingga kami dapat memberi kepadaMu?" Ini merupakan sebuah retorika (pertanyaan untuk diri sendiri). Artinya, setiap kita memberi persembahan, kita harus menyadari bahwa tidak punya nilai plus apa-apa sehingga layakmemberi kepadaNya. Semata-mata apa kita beri hanyalah sebagai tanda betapa kita tunduk, taat dan patuh serta bersyukur kepadaNya. Sambil berharap kiranya gereja menggunakannya untuk hasl yang benar di jalan Tuhan.
Ini sekaligus mengingatkan kita akan banyaknya bentuk persembahan di Gereja kita. Penggalangan dana, aksi pembangunan, aksi inventaris, persembahan bulanan, dll. Semua itu adalah persembahan. Dan marikita memberkatinya sebagai buktibetapa kita tunduk dan bersyukur kepada Tuhan.
Sumber: Pdt. TB. Tambunan
(Pendeta GKPI Jemaat Khusus Tanjung Piayu - Batam)
Prinsip ini berseberangan dengan persembahan. Kita memberi persembahan (entah itu ucapan syukur, kurban khusus, perpuluhan, perduapuluhan, dll) bukan untuk memperoleh sesuatu dari Tuhan. Karena Tuhan tidak memperjual-belikan apa pun yang ada padaNya.
Lalu mengapa kita memberi persembahan? Jawabnya ada di Firman hari ini. Tuhan menyuruh Israel membawa persembahan berupa: Emas, perak, dan perunggu, kain linen halus, kain wol biru, ungu, merah, kain dari bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit halus, kayu akasia, minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak upacara dan untuk dupa yang harus serta bermacam-macam batu permata.
Tuhan meminta itu semua bukan karena ia tidak punya. Melainkan, karena Dia-lah pemilik dari semua itu. Tapi, Tuhan fair. Ia tidak memaksa. Yang ia inginkan adalah hati tergerak (Ay 2). Hati yang tergerak inilah yang kita sebut sebagai Ibadah. Memberi sebagai tanda tunduk dan taat pada Tuhan. Memberi karena telah lebih dahulu diberi. Bersyukur karena telah lebih dahulu diberkati. Bukan karena berharapakan sesuatudari padaNya.
GKPI sendiri menuangkan keyakinan ini dalam doa persembahan setiapminggu. Tepatnya pada formulasi: "Siapakah kami sehingga kami dapat memberi kepadaMu?" Ini merupakan sebuah retorika (pertanyaan untuk diri sendiri). Artinya, setiap kita memberi persembahan, kita harus menyadari bahwa tidak punya nilai plus apa-apa sehingga layakmemberi kepadaNya. Semata-mata apa kita beri hanyalah sebagai tanda betapa kita tunduk, taat dan patuh serta bersyukur kepadaNya. Sambil berharap kiranya gereja menggunakannya untuk hasl yang benar di jalan Tuhan.
Ini sekaligus mengingatkan kita akan banyaknya bentuk persembahan di Gereja kita. Penggalangan dana, aksi pembangunan, aksi inventaris, persembahan bulanan, dll. Semua itu adalah persembahan. Dan marikita memberkatinya sebagai buktibetapa kita tunduk dan bersyukur kepada Tuhan.
Sumber: Pdt. TB. Tambunan
(Pendeta GKPI Jemaat Khusus Tanjung Piayu - Batam)
Monday, November 10, 2008
Ibadah Dan Penyembahan (Khotbah Minggu, 09 November 2008)
1. Ibadah dan Penyembahan adalah topik yang serius dan positif untuk diperbincangkan. Gkpi sendiri tidak asal memperbincangkan topik ini kecuali hanya di level Sinode Am. Tetapi perikp hari ini menunjukkan bahwa topik yang serius dan positif ini justru diperbincangkan di tempat yang sangat umu, tepatnya di pinggir sumur. (NB. Kalau sekarang orang bertemu di pinggir sumur atau tempat tempat umum lainnya seperti warung kopi, pasar, bengkel, terminal, plaza, dll, kira-kira sempatkah kita berbicara tentang ibadah dan penyembahan?)
2. Ibadah dan Penyembahan adalah topik yang horizontal. Artinya, topik yang mempersatukan setiap orang tentang bagaimana manusia bersikap di hadapan Tuhan. Perikop hari ini menunjukkan bagaimana dua oknum (Yesus dan perempuan Samaria) yang berbeda agama, beda negara, beda jenis kelamin, beda status, beda ide, dll bisa berbicara tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap di hadapan Tuhan. (NB. Kalau kita bertemu dengan orang yang 99% berbeda dengan kita, masihkan kita tertarik untuk membicarakan yang 1% lagi, sekalipun yang 1% itu adalah: Topik tetntang bagaimana kita seharusnya bersikap di hadapan Tuhan?)
Ibadah berasal dari kata Ibrani, "AVODA" artinya tunduk atau tiarap. Biasanya kata ini menunjuk kepada hamba atau budak yang menunduk ketika melayani majikannya. Akibat dari posisi tubuh yang tunduk ini, maka sang hamba dengan sendirinya bekerja sambil diliputi rasa takut, gentar, hormat dan kagum. Hasilnya adalah bahwa pelayanannya senantiasa akan diusahakan dengan sepenuh hati sambil berhati-hati. Selain itu, karena posisinya yang menunduk maka sang hamba akan benar-benar memasang telinganya dengan baik bagi perintah-perintah sang majikan.
Nilai luhur "AVODA" inilah yang diharapkan ada dalam satu ibadah kita. ARtinya, kita beribadah kepada Tuhan disertai dengan rasa tunduk dan takluk kepadaNya. Sehingga dengan demikian, kita pun akan pasang telinga dengan benar-benar pada apa yang Dia perintahkan. Bila ini terjadi maka terwujudlah apa yang Yesus katakan di perikop hari ini. Kita akan menjadi penyembah-penyembah yang datang kepadaNya dalam Roh dan Kebenaran.
Sumber: Pdt. TB. Tambunan
(Pendeta GKPI Jemaat Khusus Tanjung Piayu - Batam)
2. Ibadah dan Penyembahan adalah topik yang horizontal. Artinya, topik yang mempersatukan setiap orang tentang bagaimana manusia bersikap di hadapan Tuhan. Perikop hari ini menunjukkan bagaimana dua oknum (Yesus dan perempuan Samaria) yang berbeda agama, beda negara, beda jenis kelamin, beda status, beda ide, dll bisa berbicara tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap di hadapan Tuhan. (NB. Kalau kita bertemu dengan orang yang 99% berbeda dengan kita, masihkan kita tertarik untuk membicarakan yang 1% lagi, sekalipun yang 1% itu adalah: Topik tetntang bagaimana kita seharusnya bersikap di hadapan Tuhan?)
Ibadah berasal dari kata Ibrani, "AVODA" artinya tunduk atau tiarap. Biasanya kata ini menunjuk kepada hamba atau budak yang menunduk ketika melayani majikannya. Akibat dari posisi tubuh yang tunduk ini, maka sang hamba dengan sendirinya bekerja sambil diliputi rasa takut, gentar, hormat dan kagum. Hasilnya adalah bahwa pelayanannya senantiasa akan diusahakan dengan sepenuh hati sambil berhati-hati. Selain itu, karena posisinya yang menunduk maka sang hamba akan benar-benar memasang telinganya dengan baik bagi perintah-perintah sang majikan.
Nilai luhur "AVODA" inilah yang diharapkan ada dalam satu ibadah kita. ARtinya, kita beribadah kepada Tuhan disertai dengan rasa tunduk dan takluk kepadaNya. Sehingga dengan demikian, kita pun akan pasang telinga dengan benar-benar pada apa yang Dia perintahkan. Bila ini terjadi maka terwujudlah apa yang Yesus katakan di perikop hari ini. Kita akan menjadi penyembah-penyembah yang datang kepadaNya dalam Roh dan Kebenaran.
Sumber: Pdt. TB. Tambunan
(Pendeta GKPI Jemaat Khusus Tanjung Piayu - Batam)
Monday, November 3, 2008
Pembaharuan Hidup (Khotbah Minggu, 2 November 2008)
Tidak ada salahnya saya kira, kalau kita mendramtisasikan Firman Minggu ini di tengah gereja kita.
Kita bayangkan kalau pada suatu hari minggu Yeremia berdiri di pintu gereja kita. Dan sambil membentangkan kedua tangannya untuk menghalangi orang masuk, dengan keras ia berkata: "Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, dan Saudara sekalian ... tidak boleh masuk!!! Perbaiki dulu perilakumu agar Tuhan berkenan pada ibadahmu !!!
Kira-kira begitulah dahulu kejadiannya. Yeremia berdiri di gerbang bait Tuhan dan mengkritik jemaat yang datang untuk beribadah. Mengapa Yeremia melakukannya? Karena ternyata Tuhan tidak suka dengan cara bangsa itu beribadah. Bukan karena mereka tidak rajin beribadah. Atau karena mereka melalaikan hari-hari besar. Bukan! Yang Tuhan benci adalah bahwa ternyata ibadah dan perilaku bangsa itu tidak searah. Tingkat kerajinan mereka beribadah sama dengan tingkat kerajinan mereka menindas anak yatim, menindas janda, membunuh dan menyembah roh-roh orang mati (Ay.6) Istilah sekarang ... MU-NA-FIK.
Itulah yang Tuhan tidak suka. Rajin ke Gereja, tapi rajin juga berbuat dosa. Seolah-olah ibadah itu hanya rutinitas saja. Tidak berdampak apa-apa. Sungguh menyedihkan memang. Kalau pada hari Minggu kita bernyanyi dengan sukcita, berdoa bersama-sama, mendengar Firman, memberi persembahan, dll. Padahal senin s/d sabtunya kita malah mengutuk, memaki, meniadakan Firman Tuhan, mengandalkan kekuatan roh jahat, dll. Lalu ... hari minggunya kita datang lagi. Begitulah seterusnya.
Kalau hal seperti ini berlangsung terus, lama-kelamaan gereja akan beralih fungsi. Dari tempat beribadah menjadi Beauty Salon. Hanya untuk mempercantik pola hidup satu hari.
Adalah kerinduan kita bersama seandainya dramatisasi di atas terjadi justru sebaliknya.
Kita bayangkan kalau pada suat hari minggu Yeremia berdiri di pintu gereja kita. Dan sambil membentangkan kedua tangannya untuk menyambut orang masuk, dengan keras ia berkata: "Bapak-Bapak, Ibu-Ibu dan Saudara Sekalian ... Silahkan Masuk!!! Tuhan sangat menyenangi ibadahmu ... karena sesuai dengan perilakumu sehari-hari!"
Sumber: Pdt. TB. Tambunan
(Pendeta GKPI Jemaat Khusus Tanjung Piayu - Batam)
Kita bayangkan kalau pada suatu hari minggu Yeremia berdiri di pintu gereja kita. Dan sambil membentangkan kedua tangannya untuk menghalangi orang masuk, dengan keras ia berkata: "Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, dan Saudara sekalian ... tidak boleh masuk!!! Perbaiki dulu perilakumu agar Tuhan berkenan pada ibadahmu !!!
Kira-kira begitulah dahulu kejadiannya. Yeremia berdiri di gerbang bait Tuhan dan mengkritik jemaat yang datang untuk beribadah. Mengapa Yeremia melakukannya? Karena ternyata Tuhan tidak suka dengan cara bangsa itu beribadah. Bukan karena mereka tidak rajin beribadah. Atau karena mereka melalaikan hari-hari besar. Bukan! Yang Tuhan benci adalah bahwa ternyata ibadah dan perilaku bangsa itu tidak searah. Tingkat kerajinan mereka beribadah sama dengan tingkat kerajinan mereka menindas anak yatim, menindas janda, membunuh dan menyembah roh-roh orang mati (Ay.6) Istilah sekarang ... MU-NA-FIK.
Itulah yang Tuhan tidak suka. Rajin ke Gereja, tapi rajin juga berbuat dosa. Seolah-olah ibadah itu hanya rutinitas saja. Tidak berdampak apa-apa. Sungguh menyedihkan memang. Kalau pada hari Minggu kita bernyanyi dengan sukcita, berdoa bersama-sama, mendengar Firman, memberi persembahan, dll. Padahal senin s/d sabtunya kita malah mengutuk, memaki, meniadakan Firman Tuhan, mengandalkan kekuatan roh jahat, dll. Lalu ... hari minggunya kita datang lagi. Begitulah seterusnya.
Kalau hal seperti ini berlangsung terus, lama-kelamaan gereja akan beralih fungsi. Dari tempat beribadah menjadi Beauty Salon. Hanya untuk mempercantik pola hidup satu hari.
Adalah kerinduan kita bersama seandainya dramatisasi di atas terjadi justru sebaliknya.
Kita bayangkan kalau pada suat hari minggu Yeremia berdiri di pintu gereja kita. Dan sambil membentangkan kedua tangannya untuk menyambut orang masuk, dengan keras ia berkata: "Bapak-Bapak, Ibu-Ibu dan Saudara Sekalian ... Silahkan Masuk!!! Tuhan sangat menyenangi ibadahmu ... karena sesuai dengan perilakumu sehari-hari!"
Sumber: Pdt. TB. Tambunan
(Pendeta GKPI Jemaat Khusus Tanjung Piayu - Batam)
Subscribe to:
Posts (Atom)